Bandung, Gempar Ekspose — Selasa (2/12/2025), Gerakan Masyarakat Pendidikan Anti Korupsi (Gempar) menggelar audensi strategis dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Barat.
Pertemuan berlangsung penuh kehangatan dan komitmen, membahas sinergi untuk memperkuat perlindungan guru serta mendorong pencegahan korupsi di lingkungan pendidikan.

Ketua Umum Gempar Zacky Satria, SE.,hadir bersama jajaran pengurus diantaranya Sekjen Azis Dikri, S.Sos, Kabiro Ops Yusman, dan Ihsan bidang media.
Dalam penyampaiannya, H. Zacky menjelaskan bahwa lahirnya Gempar berawal dari rasa empati dan kepedulian terhadap guru yang kerap menghadapi persoalan hukum tanpa pendampingan.
“Gempar lahir karena nyaah ka guru. Kami bergerak di bidang Anti Korupsi, bukan untuk ‘ngorek-ngorek’, tetapi untuk edukasi dan pencegahan. Bila ada pemeriksaan oleh APH kepada guru, kami dampingi sampai selesai. Alhamdulillah, beberapa sekolah sudah terbantu,” tegas Ketum.
Lebih lanjut, Zacky mengungkapkan bahwa Gempar saat ini terus menguatkan tata organisasi melalui berbagai bidang seperti sosial, kesehatan, advokasi hukum, workshop jurnalistik, ekonomi, budaya, dan ketenagakerjaan. Bahkan saat ini Gempar turut membuka peluang kerja security di Garut serta membangun koordinasi di berbagai daerah.
“Semoga Gempar menjadi wadah perjuangan murni tanpa tergoda oleh iming-iming kekuasaan. Gempar ada untuk guru, kepala sekolah, dan dunia pendidikan. Ke depan, bila Gempar semakin besar, kami ingin kebijakan pemerintah benar-benar berpihak kepada guru.”
Di kesempatan tersebut, Ketua Umum Gempar juga secara resmi mengundang PGRI sebagai keynote speaker atau tamu undangan pada Deklarasi Pelantikan Gempar yang akan dirangkaikan dengan Penyuluhan Anti Korupsi.
PGRI: “Ini Angin Segar bagi Dunia Pendidikan”
Dari pihak PGRI Jawa Barat, hadir Wakil Ketua Bidang 5 H. Yayan, M.Pd didampingi Ramdhan, M.Si. PGRI menilai langkah Gempar sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini.
“Sekolah itu sedang berjuang. Anggaran terbatas, tapi tuntutan mutu tinggi. Kami tidak ingin guru terus dipandang seolah penjahat atau pelaku korupsi. Dunia pendidikan hari ini sedang sangat terluka,” ujar H. Yayan.
PGRI menyambut baik kolaborasi dengan Gempar demi menguatkan perlindungan profesi guru.
“Jika tujuannya baik, kenapa tidak? Ini angin segar untuk kami. PGRI akan sangat memperhatikan bila ada undangan dari Gempar.”
Sementara itu, Sekjen Gempar Azis Dikri menegaskan bahwa Gempar telah bekerja dalam koridor hukum dan kelembagaan yang jelas.
“Gempar memiliki legalitas, AD/ART dan mars sendiri. Kami sudah lebih dulu melakukan advokasi secara pribadi, dan kini bergerak secara sistem kelembagaan. Kami juga sudah terakomodir oleh penyuluh KPK untuk mengikuti Diklat Anti Korupsi.”
Komitmen Bersama untuk Dunia Pendidikan
Pertemuan Gempar dan PGRI Jawa Barat diharapkan menjadi awal kolaborasi besar untuk menciptakan pendidikan yang bebas tekanan, bebas stigma, serta berkeadilan bagi guru dan tenaga pendidik.
Gempar memastikan akan terus berada di garis depan dalam mengawal kebijakan yang berpihak kepada guru dan dunia pendidikan.***
@RedGemparEkspose
#GemparAntiKorupsi #GemparUntukGuru #GerakanAntiKorupsi #PGRIJawaBarat #AdvokasiGuru
